Tragedi Mesir, Kisah Pilu dari Tanah Air Firaun

Pembubaran paksa terhadap para demonstran pendukung mantan Presiden Morsi berakhir pilu. Ratusan warga yang tengah memperjuangkan haknya terpaksa kehilangan nyawa.
Umm Abdallah duduk terdiam di samping tubuh suaminya yang kini sudah terbujur kaku. Suami Umm Abdallah, Mohsen Radi, meninggal dunia di tangan polisi yang membubarkan paksa para pengunjuk rasa pendukung mantan Presiden Mesir, Mohammad Morsi, yang menduduki kawasan Rabaa al-Adawiya Square, Rabu pekan ketiga Agustus 2013. 

Tragedi berdarah di Mesir. Foto : ist
Jenazah Radi sudah diselimuti kain kafan dan dijajarkan dengan 200 mayat lainnya yang juga tewas dalam peristiwa itu. Mayat-mayat itu dikumpulkan di dekat Masjid Imam, beberapa kilometer dari lokasi kejadian. Darah segar merembes ke dalam kain kafan yang membungkus jasadnya. 

"Suami saya baru 48 tahun dan kini dia sudah pergi. Sekarang, saya harus menjaga lima anak-anak kami. Kami tidak akan membiarkan darahnya sia-sia. Kami akan melanjutkan perjuangnya. Jika salah satu di antara kami meninggal dunia, yang lain harus menggantikan posisinya," kata Umm Abdallah, menutupi kesedihannya melalui cadar yang menutup hampir seluruh wajahnya, seperti dikutip AFP. 

Lantunan ayat-ayat suci Al Quran mengalun di tengah-tengah kedukaan itu. Seorang laki-laki menyemprotkan cairan desinfektan ke mayat-mayat itu. Seorang perempuan berjilbab menyalakan dupa di atas tubuh ratusan mayat untuk menghilangkan bau anyir. 
Tak lama, seorang laki-laki lain meletakkan batu es raksasa di dekat mayat-mayat itu. 

"Ini mayat istri adik laki-laki saya. Dia wafat pada usia 22 tahun. Saya bahagia duduk di sini bersama orang-orang ini yang akan segera berangkat langsung ke surga. Darah mereka akan menjadi kutukan bagi Sisi dan tentaranya," kata Khaled Abdel Nour, yang berusaha melindungi tumpukan mayat-mayat itu agar tidak dibakar oleh aparat keamanan Mesir sementara. 

Beberapa saat kemudian, mayat-mayat itu digotong keluar untuk dimakamkan. Kalimat "tiada Tuhan selain Allah" terus diteriakkan oleh keluarga para korban mengiringi pemakaman mereka. Tindakan sadis aparat keamanan para Rabu pagi itu telah membuat korban jiwa berjatuhan dan meninggalkan jejak kehancuran pada Mesir. 

Rekaman video yang disebarkan melalui situs jejaring sosial memperlihatkan kawasan Rabaa al-Adawiya berubah menjadi lautan api. Pohon-pohon berdiri dengan kondisi batang hangus. Di pinggir jalan, sepatu terbakar dan peluru berserakan. Satu hari berselang, para petugas kebersihan tampak berusaha membersihkan kawasan itu. Empat buldoser dikerahkan ke lokasi kejadian untuk mengangkut puing-puing yang berserakan, sementara tentara Pemerintah Mesir terus mengawasi kegiatan bersih-bersih itu. 

"Pembubaran massa itu harus dilakukan. Tidak ada cara lain. Kami yang tinggal di sekitar sini tidak bisa hidup. Apa yang terjadi itu tidak bisa terelakkan," kata Omar Hamdi, 23 tahun. Namun warga Mesir lainnya, Ali Abdul Haq, 57 tahun, berpendapat lain. Baginya, cara pembubaran massa yang dilakukan aparat keamanan Mesir tetap tidak dibenarkan. "Sungguh disayangkan. Harusnya aparat keamanan menggunakan cara-cara yang lebih bijak. Rakyat sudah memilih presiden dan memberikan suaranya untuk Morsi. Bagaimana militer bisa membuang begitu saja suara rakyat dengan cara sederhana?" kata Haq. 

Di Mana Morsi?

Sudah lebih dari lima pekan para pendukung mantan Presiden Morsi berunjuk rasa secara maraton. Mereka memprotes langkah penggulingan terhadap presiden yang diusung kelompok Ikwanul Muslimin (IM) itu. Morsi digulingkan melalui kudeta militer pada 3 Juli 2013. Bagi warga Negeri Piramida, Morsi tidak bisa digulingkan karena dia adalah presiden Mesir pertama yang dipilih secara demokratis melalui pemilu. 

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, rasanya pas untuk menggambarkan nasib Morsi yang hanya setahun menjabat sebagai orang nomor 1 di Mesir, menggantikan Hosni Mubarak. Morsi menjadi Presiden Mesir saat negara itu betul-betul terpuruk secara ekonomi, yang kemudian merambat pada iklim politik. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan sampai menangguhkan dana pinjaman 4,8 miliar dollar AS. Penundaan itu diambil dengan pertimbangan meningkatnya aksi protes di Kairo menjelang referendum konstitusi. 

Sebagai sekutu dekat, Amerika Serikat (AS) juga memutuskan untuk meringankan utang Mesir senilai satu miliar dollar AS. Harian The New York Times pada September 2012 mewartakan, Gedung Putih mempertimbangkan upaya pemangkasan utang terhadap Mesir demi membantu proses transisi demorkasi pasca kejatuhan rezim Hosni Mubarak. 

Sementara itu, perusahaan pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, menurunkan peringkat utang jangka panjang Mesir dari B menjadi B dengan prospek negatif pada awal 2013. Peringkat utang Mesir itu berpotensi turun kembali.

Penurunan peringkat utang Mesir disebabkan pertimbangan ketidakstabilan politik, melemahnya perekonomian, dan menipisnya cadangan devisa. 
Fitch menganalisis posisi fiskal Mesir telah memburuk. Pengeluaran pemerintah untuk subsidi, pembayaran suku bunga, dan tagihan gaji pegawai negeri meningkat. Pada saat bersamaan, perekonomian melemah sehingga menggerus pendapatan pemerintah, khususnya dari pajak.

Di tengah-tengah belitan ekonomi, ujian dari sektor politik pun deras menekan Morsi. Keputusan Morsi yang menempatkan sejumlah pucuk pemimpin IM di sejumlah lembaga milik pemerintah berakibat negatif sampai-sampai dia dituding ingin mengislamkan Mesir. Padahal, tidak seluruh warga Mesir pemeluk agama Islam. 

Kepada stasiun televisi CNN, Morsi, yang seorang penghafal Al-Quran, mengatakan rencana seperti itu tidak pernah terlintas di benaknya sama sekali. "Tidak ada hal seperti itu dalam demokrasi Islam. Rakyat adalah sumber kewenangan dan perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki," ujar Morsi. Jawabannya kepada CNN itu rasanya bukan basa-basi. Sebab dalam sebuah situs, sosok Morsi memang digambarkan sebagai salah satu pemimpin yang paling menonjol di IM dan sangat mengutamakan rasa persaudaraan. Sayang, sampai saat ini, Morsi belum diketahui rimbanya. Keluarga dan pendukung setianya yang tersisa masih bertanya-tanya pada Pemerintah Mesir sementara, di mana Morsi?


Sumber : Koran Jakarta

Comments

Popular posts from this blog

Ancaman dan Keamanan pada Sistem Operasi